Jumat, 01 Desember 2017

Makalah TOKOH-TOKOH PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA

TOKOH-TOKOH
PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA
Disusun Guna Memenuhi Tugas Makalah
Mata Kuliah Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia
Dosen Pengampu: Prof. Dr. Mansur, M.Ag.

 Oleh:
Kelas 5B
Ulfah Masfufah                              23010-15-0136
Ahmad Faqihuddin Siroj                23010-15-0138
Zahirah Suryani Afifah                   23010-15-0150

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA
2017

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Sejak awal mula, Islam sangat mendorong umatnya untuk menggali ilmu dengan melakukan pengkajian dan pengamatan terhadap fenomena alam yang merupakan tanda kekuasaan Allah SWT. Dengan mengamati dan memperhatikan berbagai fenomena alam yang terbentang luas itu, niscaya manusia akan memahami eksistensi dirinya sebagai makhluk dan Allah SWT sebagai Sang Khalik. Dalam kontek itulah maka setiap muslim diwajibkan untuk mencari Ilmu sejak lahir sampai meninggal.
Memahami pendidikan Islam tidak semudah mengurai kata “Islam” dari kata “pendidikan”, karena selain sebagai predikat, Islam juga merupakan satu subtansi dan subjek penting yang cukup komplek. Karenanya, untuk memahami pendidikan Islam berarti kita harus melihat aspek utama missi agama Islam yang diturunkan kepada umat manusia dari sisi pedagogis. Sesungguhnya merefleksikan nilai-nilai pendidikan yang mampu membimbing dan mengarahkan manusia sehingga menjadi manusia sempurna. Islam sebagai agama universal telah memberikan pedoman hidup bagi manusia menuju menuju kehidupan bahagia, yang pencapaiannya bergantung pada pendidikan. Pendidikan merupakan kunci penting untuk membuka jalan kehidupan manusia.[1]
Untuk dapat mengenal pendidikan secara lebih mendalam perlu ditelaah pandangan-pandangan orang-orang yang berdedikasi dalam dunia pedidikan. Dalam makalah ini akan dibahas tentang pendidikan Islam dalam pemikiran beberapa tokoh yang terkenal di Indonesia. Semoga mampu memberikan kesegaran dalam dahaga kita akan wacana tentang pendidikan, khususnya pendidikan Islam.
B.       Rumusan Masalah
  1. Apa pengertian dari pendidikan Islam ?
  2.  Bagaimana pemikiran para ahli tentang pendidikan ?
C.      Tujuan
  1. Mengetahui pengertian pendidikan Islam.
  2. Mengetahui pemikiran para ahli tentang pendidikan.




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Pendidikan Islam
Hakekat pendidikan Islam adalah usaha orang dewasa muslim yang bertaqwa secara sadar mengarahkan dan membimbing pertumbuhan serta perkembangan fitrah (kemampuan dasar) anak didik melalui ajaran Islam ke arah titik maksimal pertumbuhan dan perkembangannya.[2]
Al-Qur'an dan Sunnah Rasul merupakan sumber ajaran Islam, maka pendidikan Islam pada hakekatnya tidak boleh lepas dari kedua sumber tersebut. Dalam kedua sumber tersebut pendidikan lebih dikenal dengan istilah-istilah yang pengertiannya terkait dengan pendidikan, yaitu at-Tarbiyah. Pendidikan atau at-Tarbiyah menurut pandangan Islam adalah bagian dari tugas manusia sebagai Khalifah Allah di bumi. Allah adalah Rabb al-’Alamin juga Rabb al-Nas. Tuhan adalah “yang mendidik makhluk alamiah dan juga yang mendidik manusia.”[3]
Jadi, jelaslah bahwa proses pendidikan merupakan rangkaian usaha membimbing, mengarahkan potensi hidup manusia yang berupa kemampuan-kemampuan dasar dan kemampuan belajar, sehingga terjadilah perubahan di dalam kehidupan pribadinya sebagai makhluk individual dan sosial serta dalam hubungannya dengan alam sekitar di mana ia hidup. Proses tersebut harus senantiasa berada di dalam nilai-nilai Islami, yaitu nilai-nilai yang melahirkan norma-norma syari’ah yang sesuai dengan pendidikan Islam.

B.    Pemikiran Pendidikan Menurut Para Ahli
1.      Zainuddin Labay
Zainuddin Labay al-Yunusi, dilahirkan di Bukit Surungan, Padang Panjang pada tahun 1980. Menurut Deliar Noer, Zainuddin Labay dapat disebut seorang otodidak yang menjadi “orang” dengan tenaga sendiri.[4] Ia tidak pernah memperoleh pendidikan yang sistematis. Ia hanya belajar dua tahun di sekolah negeri dan dua tahun lagi belajar agama pada Syaikh Muhammad Yunus, ayahnya. Karena ayahnya seorang ulama, dia belajar agama di Surau ayahnya dan beberapa Surau lainnya. Namun, sumber lain menyebutkan bahwa Labay ketika kecil masuk sekolah gubernemen selama 4 tahun.[5]
Dalam bidang pendidikan Labay termasuk seorang yang mula-mula memperkenalkan sistem sekolah yang baru. Dengan mernbuka sekolah guru Diniyah (1915)[6] ia mempergunakan sistem berkelas dengan kurikulurn yang lebih teratur yang mencakup juga pengetahuan umum seperti bahasa, matematika, sejarah, ilmu bumi, di samping pelajaran agama. Ia juga mengorganisir sebuab klub musik untuk murid-muridnya.
Pada tahun 1916 ketika dia masih menjadi murid dan membantu mengajar H. Abdul Karim Amrullah di Jembatan Besi, Zainuddin Labay mendirikan Madrasah Diniyah, yang merupakan madrasah sore untuk pendidikan agama yang diorganisasikan berdasarkan sistem klasikal dan tidak mengikuti sistem pengajaran tradisional yang individual. Begitu pula susunan pelajarannya berbeda dengan yang lain, yaitu dimulai dengan pengetahuan dasar bahasa Arab sebelum mulai membaca al-Qur’an. Di samping pendidikan agama, juga diberikan pendidikan umum, terutama sejarah dan ilmu bumi. Dalam kelas tertinggi mata pelajaran tersebut menggunakan buku-buku bahasa Arab dan dengan begitu mata pelajaran ini lebih bersifat ekstra bahasa Arab daripada ilmu bumi atau sejarah.[7]
Dari uraian di atas, dapat diambil beberapa hal-hal sebagai berikut. Pertama, ia berjasa dalam mengembangkan bahasa Arab baik sebagai bahasa pengantar, maupun bahasa yang digunakan dalam kegiatan sehari-hari. Kedua, ia telah memperkenalkan model pendidikan yang masa itu belum lazim digunakan, yaitu model klasikal. Ketiga, ia telah memperkenalkan pengetahuan modern ke dalarn kurikulum pendidikan Islam.

2.      KH. Ahmad Dahlan
Ahmad Dahlan dilahirkan pada tahun 1868 sebagai anak salah seorang dari 12 khatib Masjid Agung Yogyakarta. Sumber lain menyebutkan bahwa Ahmad Dahlan dilahirkan di Yogyakarta pada tahun 1869 dengan nama Muhammad Darwis, anak dari seorang KH. Abubakar bin Kyai Sulaiman. Ibunya adalah anak Haji Ibrahim.[8] Setelah ia menyelesaikan pendidikan dasarnya dalam nahwu, fiqih dan tafsir di Yogya dan sekitarnya, ia pergi ke Mekkah tahun 1890 di mana ia belajar selama setahun. Salah seorang gurunya ialah Syaikh Ahmad Khatib. Sekitar tahun 1903 ia mengunjungi kembali tanah suci di mana ia menetap di sana selama dua tahun.[9]
Pada tanggal 18 November 1912 Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah bersama teman-temannya. Tujuan Muhammadiyah terutama untuk mendalami agama Islam di kalangan anggota sendiri dan menyebarkan ajaran agama Islam di luar anggotanya. Pandangan Ahmad Dahlan dalam bidang pendidikan dapat dilihat pada kegiatan pendidikan yang dilaksanakan oleh Muhammadiyah. Dalam bidang pendidikan, Muhammadiyah melanjutkan model sekolah yang digabungkan dengan sistem pendidikan gubernemen. Di samping sekolah desa di kampungnya sendiri, Ahmad Dahlan juga membuka sekolah yang sama di kampung Yogya yang lain.[10]
Di samping mendirikan sekolah yang mengikuti model gubernemen, Muhammadiyah dalam waktu singkat juga mendirikan sekolah yang lebih bersifat agama, usaha tersebut dapat dianggap sebagai realisasi dari rencana Sarekat Islam yang semenjak tahun 1912 berusaha mendirikan sekolah pendidikan agama, yang dapat menyaingi sekolah pendidikan gubernemen. Pada tanggal 8 Desember 1921, Muhammadiyah sudah dapat mendirikan Pondok Muhammadiyah sebagai sekolah pendidikan guru agama.[11]
Muhammadiyah berhasil melanjutkan model pembaharuan pendidikan disebabkan oleh adanya kenyataan bahwa ia menghadapi lingkungan sosial yang terbatas pada pegawai, guru maupun pedagang di kota. Kelompok menengah di kota dalam banyak hal merupakan latar belakang sosial yang dominan dalam Muhammadiyah hingga sekarang ini. Kelompok ini juga mementingkan pendidikan model Barat. Oleh karena itu, Muhammadiyah dengan menyediakan model pendidikan Barat ditambah dengan pendidikan agama, mendapatkan hasil yang baik dalam kalangan ini.[12]Pada masa Indonesia merdeka, Muhammadiyah mendirikan sekolah-sekolah, madrasah-madrasah berlipat ganda banyaknya dari pada masa penjajahan Belanda dahulu. Yang terdiri dari sekolah agama dan terdapat pula sekolah umum Muhammadiyah.[13]
Dari uraian tersebut dapat diketahui ide-ide pendidikan yang dikemukakan oleh Ahmad Dahlan yaitu beliau sebagai pembawa pembaharuan dalam sistem pendidikan, yang semula sistem pesantren menjadi sistem sekolah, memasukkan pelajaran umum ke dalam sekolah-sekolah agama atau madrasah, dan Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Islam yang paling pesat dalam mengembangkan lembaga pendidikan yang lebih bervariasi yaitu Muhammadiyah.

3.      KH. Hasyim Asy’ari
KH. Hasyim Asy’ari lahir di Gedang. Jombang Jawa Timur, hari Selasa 24 Dzulqo’dah 1287 H. bertepatan dengan 14 Februari 1871 M. Ayahnya bernama Asy’ani ulama asal Demak, yang merupakan keturunan ke-8 dan Jaka Tingkir yang menjadi Sultan Pajang di tahun 1568, dan Jaka Tingkir ini merupakan anak Brawijaya IV yang menjadi raja Majapahit. Sedangkan ibunya bernama Halimah. puteri kiai Usman. pendiri dan pengasuh pesantren Gedang Jawa Timur, tempat ia dilahirkan.[14]
KH. Hasyim Asy’ari merupakan pendiri Nahdhatul Ulama (NU), bersama KH. Wahab Hasbullah dan KH. Bisri Syansuri, yang didirikan di Surabaya pada tanggal 16 Rajab 1344, bertepatan tanggal 31 Januari 1926. Organisasi NU bermaksud untuk mempertahankan praktik keagamaan yang sudah mentradisi di Nusantara untuk mengimbangi gencarnya ekspansi pembaruan Islam. NU sendiri memberikan perhatian besar bagi pendidikan, khususnya pendidikan tradisional yang harus dipertahankan keberadaannya. Kemudian NU mendirikan madrasah-madarasah dengan model Barat.[15]
Dalam hidupnya, beliau juga ikut berperan penting dalam bidang politik nasional. Di samping itu, beliau menjadi salah satu motivator para pejuang bangsa Indonesia dalam mengusir pendudukan kolonial di tanah air, untuk meraih kemerdekaan. Akhir hayatnya, KH. Hasyim Asy’ari wafat pada tanggal 7 Ramadhan 1366 H, bertepatan tanggal 25 Juli 1947, disebabkan tekanan darah tinggi.[16]
Tentang pemikiran pendidikan KH. Hasyim seperti tertuang dalam bukunya Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, sebenarnya sudah banyak mendapat perhatian. Kitab yang terdiri atas delapan bab, secara garis besar dapat dikelompokkan ke dalam tiga bagian penting, menyangkut siginifikansi pendidikan, tanggung jawab dan tugas murid, serta tanggung jawab dan tugas guru, menurut Zuhairi Misrawi, merupakan resume dari tiga kitab: Adâb al-Mu’allim Ibn Sahnun (w. 871 M), Ta’lîm al-Muta’allim fî Wariqat al-Ta’allum al-Zarnuji (w. 1222 M), dan Tadhkirah al-Syam’i wa al-Mutakallim fî Adab al-‘Alim wa al-Mutakallim Ibnu Jamaah (w. 1333 M) .[17]
Terdapat dua hal yang harus diperhatikan dalam menuntut ilmu, pertama bagi murid, hendaknya ia berniat suci menuntut ilmu, jangan sekali-kali berniat untuk hal-hal duniawi dan jangan melecehkan atau menyepelekan. Kedua, bagi guru, dalam mengajarkan ilmu hendaknya ia meluruskan niatnya terlebih dahulu, tidak mengharapkan materi semata-mata. Dalam hal belajar, yang menjadi titik penekanannya adalah pada pengertian bahwa belajar itu merupakan ibadah untuk mencari ridha Allah yang mengantarkan seseorang untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Karenanya, belajar harus diniati untuk mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai Islam, bukan sekadar menghilangkan kebodohan.[18]
Jadi, KH. Hasyim Asy’ari merupakan pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia yaitu Nahdhatul Ulama (NU). Beliau juga menjadi salah satu motivator para pejuang bangsa Indonesia dalam mengusir pendudukan kolonial di tanah air, untuk meraih kemerdekaan dan tentang pemikiran pendidikan KH. Hasyim tertuang dalam bukunya Adâb al-‘Âlim wa al-Muta’allim, yang lebih menekankan pada adab (etika) dalam pendidikan.

4.      KH. Imam Zarkasyi
KH. Imam Zarkasyi dilahirkan di Gontor, 21 Maret 1910 dan wafat di Madiun, 30 April 1985. KH. Imam Zarkasyi adalah putra bungsu dari tujuh bersaudara, dari pasangan Kyai Santoso Anom Bashri dan Nyai Sudarmi Santoso. Imam Zarkasyi dibesarkan di lingkungan keluarga muslim yang taat beragama, ayahnya seorang kyai besar di Pondok Gontor.
Pemikiran pendidikan KH. Imam Zarkasyi yang cukup terkenal dalam pengembangan dunia pendidikan pesantren salah satunya adalah panca jiwa. Panca jiwa tersebut merupakan nilai-nilai yang terdiri atas lima unsur yang yang harus dijadikan pegangan setiap santri. Diantara isi dari panca jiwa tersebut antara lain:
a.         Nilai keihklasan, sebagai poin pertama isi dari panca jiwa yang bisa diartikan sebagai berbuat sesuatu bukan karna didorong oleh keinginan memperoleh keuntungan tertentu, namun yang dilakukan dengan niat semata mencari ibadah kepada Allah SWT.
b.        Nilai kesederhanaan, yakni mendidik orang untuk hidup apa adanya menggunakan sesuatu sesuai keperluannya tanpa berlebih-lebihan.
c.         Nilai kemandirian (menolong diri sendiri) juga menjadi bagian dari jiwa setiap santri, kemandirian merupakan senjata utama menuju masa depan yang penuh harapan. Kemandirian pun tidak sebatas bersifat lahir namun tidak bersifat objek tetapi subjek yang menentukan pola, agenda yang dilakukan kegiatan sehari-hari.
d.        Nilai persaudaraan, kehidupan di pondok pesantren diliputi suasana persaudaraan yang akrab, sehingga segala suka dan duka dirasakan bersama dalam jalinan ukhuwah Islamiyah. Tidak ada dinding yang dapat memisahkan antara mereka. Ukhuwah ini bukan saja selama mereka di pesantren, tetapi juga mempengaruhi ke arah persatuan umat dalam masyarakat setelah mereka terjun di lapangan kehidupan sesungguhnya.
e.         Nilai kebebasan, berarti mengandung pengertian bukan terlalu bebas (liberal) sehingga kehilangan arah  dan tujuan serta prinsip bukan juga terlalu bebas untuk dipengaruhi, bukan bebas semau-maunya sendiri sebagaimana seperti anarkis. Dengan demikian kebebasan ini diberikan kepada setiap santri untuk secara jujur menjawab sesuatu perbuatan atau tindakan yang dilakukan itu baik dan buruk .[19]
Sedangkan dalam aspek kurikulum menurut KH. Imam Zarkasyi merancang secara komprehensif. Artinya kurikulum tidak sebatas diartikan sebagai rencana studi, tetapi mencakup segala pengalaman belajar yang penting untuk dilalui para santri selama proses belajar. Adapun isi kurikulum pondok modern gontor  tidak hanya pendidikan islam saja namun pendidikan umum juga.[20]
Pemikiran pendidikan KH. Imam Zarkasyi dalam pengembangan dunia pendidikan pesantren salah satunya adalah panca jiwa. ada juga dalam gagasan beliau akan pentingnya pendidikan kemandirian menjadi sebuah keniscayaan agar santri berani menatap dan menentukan masa depannya masing-masing begitu juga dengan hidup bebas, bebas berpikir, dan kesederhaan menjadi bagian pokok dalam tujuan tersebut.
BAB III
KESIMPULAN

Pendidikan Islam adalah usaha orang dewasa muslim yang bertaqwa secara sadar mengarahkan dan membimbing pertumbuhan serta perkembangan fitrah (kemampuan dasar) anak didik melalui ajaran Islam ke arah titik maksimal pertumbuhan dan perkembangannya. Al-Qur'an dan Sunnah Rasul merupakan sumber ajaran Islam, maka pendidikan Islam pada hakekatnya tidak boleh lepas dari kedua sumber tersebut.
Pemikiran dari Zainuddin Labay adalah dengan mernbuka sekolah guru Diniyah (1915) ía mempergunakan sistem berkelas dengan kurikulurn yang lebih teratur yang mencakup juga pengetahuan umum seperti bahasa, matematika, sejarah, ilmu bumi, di samping pelajaran agama. Zainuddin Labay mendirikan Madrasah Diniyah, yang merupakan madrasah sore untuk pendidikan agama yang diorganisasikan berdasarkan sistem klasikal dan tidak mengikuti sistem pengajaran tradisional yang individual. Susunan pelajarannya berbeda dengan yang lain, yaitu dimulai dengan pengetahuan dasar bahasa Arab sebelum mulai membaca al-Qur’an. Tokoh selanjutnya Ahmad Dahlan sebagai pembawa pembaharuan dalam sistem pendidikan, yang semula sistem pesantren menjadi sistem sekolah, memasukkan pelajaran umum ke dalam sekolah-sekolah agama atau madrasah, dan Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Islam yang paling pesat dalam mengembangkan lembaga pendidikan yang lebih bervariasi yaitu Muhammadiyah.
KH. Hasyim Asy’ari merupakan pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia yaitu Nahdhatul Ulama (NU). Beliau juga menjadi salah satu motivator para pejuang bangsa Indonesia dalam mengusir pendudukan kolonial di tanah air, untuk meraih kemerdekaan. Dan tentang pemikiran pendidikan KH. Hasyim tertuang dalam bukunya Adâb al-‘Âlim wa al-Muta’allim, yang lebih menekankan pada adab (etika) dalam pendidikan. Dan tokoh terakhir KH. Imam Zarkasyi yang cukup terkenal dalam pengembangan dunia pendidikan pesantren salah satunya adalah panca jiwa. Panca jiwa tersebut merupakan nilai-nilai yang terdiri atas lima unsur yang yang hasru dijadikan pegangan setiap santri. Diantara isi dari panca jiwa tersebut antara lain Nilai Keikhlasan, Nilai Kemandirian, Nilai Kesederhanaan, Nilai Persaudaraan dan Nilai Kebebasan. Aspek kurikulum menurut KH. Imam Zarkasyi merancang secara komprehensif. Artinya kurikulum tidak sebatas diartikan sebagai rencana studi, tetapi mencakup segala pengalaman belajar yang penting untuk dilalui para santri selama proses belajar




DAFTAR PUSTAKA

Arifin,H.M. 1991. Ilmu Pendidikan Islam Suatu Tinjauan Teoritis Dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner. Jakarta: Bumi Aksara

Aziz, Safrudin. 2015. Pemikiran Pendidikan Islam (Kajian Tokoh Klasik dan Kontemporer). Yogyakarta: Kalimedia

Khuluq, Lathiful, 2000. Fajar Kebangunan Ulama Biografi KH. Hasyim Asy’ari. Yogyakarta: Lkis

Kurniawan, Syamsul & Erwin Mahrus. 2013. Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam. Maguwoharjo: Ar Ruzz Media,

Nata, Abudin. 1997. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu

Noer, Delier. 1985. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. Jakarta: LP3ES

Rahman, Musthofa. 2001. Pendidikan Islam dalam Perspektif al-Qur’an. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Suwendi. 2004. Sejarah dan Pemikiran Pendidikan Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada

Zuhairini. 1995. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara




[1]Musthofa Rahman, Pendidikan Islam dalam Perspektif al-Qur’an, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001, hlm. 2
[2]M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam Suatu Tinjauan Teoritis Dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), hlm. 32.
[3]Zuhairini, dkk., Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), hlm. 147.
[4]Delier Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, (Jakarta: LP3ES, 1985), hlm. 48
[5]Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), hlm. 187
[6] Ibid,. hlm. 189
[7]Ibid,. hlm. 189
[8]Delier Noer, Op.Cit., hlm. 85
[9]Ibid,. hlm. 85
[10]Abudin Nata, Op.Cit., hlm. 206
[11]Ibid,. hlm. 206
[12]Ibid,. hlm. 207
[13]Ibid,. hlm. 208
[14]Lathiful Khuluq, Fajar Kebangunan Ulama Biografi KH. Hasyim Asy’ari, (Yogyakarta: Lkis, 2000), hlm.  15
[15]Ibid,. hlm. 16
[16] Ibid, hlm. 17
[17]Suwendi, Sejarah dan Pemikiran Pendidikan Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), hlm. 146.
[18] Syamsul Kurniawan & Erwin Mahrus, Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam (Maguwoharjo: Ar Ruzz Media, 2013), hlm. 212
[19] Safrudin Aziz, Pemikiran Pendidikan Islam (Kajian Tokoh Klasik dan Kontemporer), (Yogyakarta: Kalimedia, 2015), hlm. 284
[20]Ibid, hlm. 286.

PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Dosen Pe...