Rabu, 19 April 2017

ILMU PERBANDINGAN AGAMA DAN DIALOG ANTAR AGAMA (TUGAS UTS PERBANDINGAN AGAMA PAK IMAMUL HUDA



ILMU PERBANDINGAN AGAMA DAN DIALOG ANTAR AGAMA
Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Perbandingan Agama
Dosen Pengampu : Imamul Huda, M.Pd.I




Disusun Oleh :
Ajeng Rahmahwati                       (23010-15-0116)
       Viky Astriana                               (23010-15-0121)
Restu Riawan                                (23010-15-0127)

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI  SALATIGA
 2017

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Ilmu Perbandinghan Agama sering menimbulkan salah pengertian. Pertama, seseorang sering memahami Ilmu Perbandingan Agama sebagai ilmu yang hanya membandingkan antara agama yang satu dengan agama lain. Padahal tujuan dari Ilmu Perbandingan Agama bukan sekedar membanding-bandingkan, tetapi lebih luas dari itu. Seseorang dengan apriori mengangap bahwa Ilmu Perbandingan Agama mendangkalkan aqidah. Sebab seseorang mengira bahwa dengan mempelajari Ilmu Perbandingan Agama akan mengurangi keyakinan agama Islam. Padahal justru dengan mempelajari Ilmu Perbandingan Agama seorang Muslim akan semakin menemukan keunggulan ajaran agama Islam dibandingkan ajaran agama lain.
Pada makalah ini akan membahas lebih lanjut tentang ilmu perbandingan agama, sehingga kita dapat mengetahu ilmu perbandingan agama, yang tujuannya bukan membanding-bandingkan agama tetapi agar kita lebih menghargai agama lain dengan cara kita memahami agama mereka.

B.     Rumusan Masalah
1.        Apa yang dimaksud dengan Ilmu Perbandingan Agama?
2.        Bagaimana metode Ilmu Perbandingan Agama?
3.        Bagaimana dialog antar agama?
C.     Tujuan
1.        Mengetahui  tetang Ilmu Perbandingan Agama.
2.        Mengetahui tentang metode ilmu perbandingan agama.
3.        Mengetahui tentang dialog antar agama.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Ilmu Perbandingan Agama
Ilmu perbandingan agama adalah ilmu yang dapat mengetahui dan memahami gejala-gejala keagamaan dari pada sesuatu kepercayaan dalam hubungannya dengan agama lain. Pemahaman ini kadang-kadang menemukan persamaan-persamaan dasar dari berbagai agama, dan kadang-kadang juga menemukan perbedaan-perbedaan yang terdapat diantara macam-macam agama itu. Biasanya perbandingan agama, dilakukan dari agama yang dipeluk oleh seseorang dalam usahanya untuk menilai isi dan cirri-ciri dari agama lain.[1]
Sedangkan menurut Ali dalam bukunya Ahmadi ilmu perbandingan adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang berusaha untuk memahami gejala-gejala keagamaan dari pada suatu kepercayaan dalam hubungannya dengan agama lain yang meliputi persamaan dan perbedaan.[2]
Perbandingan agama adalah ilmu pengetahuan tentang agama yang menjadi salah satu cabang ilmu pengetahuan yang belum begitu lama, sebab ilmu ini baru dikenal orang sejak 100 tahun yang lalu. Meskipun ilmu perbandingan agama baru dikenal di dunia barat tetapi ilmu ini sudah dikenal di dunia timur sejak dahulu kala, dan diantara kitab-kitab tentang ilmu ini ialah kitab “Al- Milai WanNihal”.

1.         Tujuan dan manfaatnya Ilmu Perbandingan Agama
Ada beberapa tujuannya Ilmu Perbandingan Agama yaitu:
a.         Ilmu ini tidak member atau menambah keimanan seseorang,tegasnya orang yang tidak beragama tidak akan dapat memperoleh sesuatu kepercayaan atau keimanan dari ilmu ini.
b.        Ilmu ini tidak membicarakan tentang kebenaran sesuatu agama, oleh karena kebenaran itu adalah soal teologi yang menggunakan jalan-jalan lain yang berlainan dari pada ilmu pengetahuan.[3]  

Ilmu Perbandingan Agama juga  mempunyai banyak manfaat bagi seorang Muslim. Adapun beberapa manfaatnya  adalah sebagai berikut:
1)   Dapat memahami kehidupan batin, alam pikiran dan kecenderungan hati dari berbgai umat manusia.
2)   Dengan mengetahui agama-agama lain seorang Muslim dapat mencari persamaan-persamaan (lebih tepat kesejajaran-kesejajaran ) antara agama Islam dengan agama-agama lain. Dengan demikian dapat membuktikan di mana letak keunggulan agama Islam dibandingkan agama-agama lain. Selanjutnya dapat mengetahui bahwa agama-agama sebelum Islam itu sebagai pengantar terhadap kebenaran yang lebih luas dan lebih penting, yaitu agama Islam.
3)   Dengan membandingkan agama Islam dengan agama-agama lain dapat menimbulkan rasa simpati terhadap orang-orang yang belum mendapatkan petunjuk tentang kebenaran. Selanjutnya akan menimbulkan rasa tanggung jawab untuk menyiarkan kebenaran-kebenaran yang terkandung dalam agama Islam kepada masyarakat luas.
4)   Dengan membandingkan ajaran-ajaran agama Islam dengan ajaran agama-agama lain akan memudahkan untuk memahami isi dari agama Islam itu sendiri. Bahkan dengan cara membandingkan  tersebut dapat memperdalam keyakinan seorang Muslim terhadap ajaran-ajaran yang terkandung di dalam agama Islam itu sendiri, atau dapat menampakkan mutu manikam ajaran Islam yang kadang-kadang tidak disadari sebelum dibandingkan dengan agama lain.
5)   Dengan mengetahui konsep-konsep ajaran agama lain seorang Muslim akan dapat belajar menemukan konsep-konsep yang mudah dicerna orang lain. Sebab sering ajaran Islam sulit difahami orang lain karena orang Islam sendiri sering mengemukakan konsep-konsep ajaran Islam yang rumit dan sulit.
6)   Dengan mengetahui ajaran-ajaran agama lain seorang Muslim dapat lebih baik dalam berdakwah. Sebab ia dapat lebih baik dalam menentukan metode, materi, konsep-konsep, strategi, dsb. sesuaia dengan sasarannya.
7)   Pada era globalisasi ini dimana bangsa-bangsa, suku-suku, golongan-golongan, dengan lebih mudah saling bertemu dan berkomunikasi karena berbagai kepentingan, maka pengetahuan akan agama-agama lain sangat dibutuhkan. Karena dengan bertemunya macam-macam bangsa, suku dan golongan tersebut pada dasarnya juga saling bertemu agamanya. Selanjutnya dengan memahami ajaran-ajaran agama lain seorang Muslim akan lebih mudah toleran dan hidup rukun dengan orang yang beragama lain. Akibat lebih jauh dengan adanya kerukunan hidup beragama itu para pemeluk agama-agama dapat saling bersatu untuk perdamaian dunia, mengentaskan kemiskinan, membangun bangsanya atau dunia, memerangi kejahatan, meninggikan moral.[4]
8)   Dengan menguasai Ilmu Perbandingan Agama seorang Muslim akan   lebih mudah  melakukan dialog dengan pemeluk agama lain.[5]

Di samping itu dengan mempelajari Ilmu Perbandingan Agama, meneliti dan mengembangkannya, seorang Muslim dapat mengkaji agama-agama lain terutama yang berada di Barat, sehingga dengan sendirinya akan mengembangkan Occidentalisme atau pemahaman tentang budaya dan agama Barat.  Sehingga seorang Muslim tidak hanya membiarkan agama Islam sebagai obyek kajian para Orientalis , tetapi juga menjadi subyek dengan mengkaji agama-agama selain Islam (terutama agama orang Barat).

2.         Obyek Ilmu Perbandingan Agama
Menurut Mukti, Ilmu Perbandingan Agama di Indonesia, menjelaskan bahwa obyek Ilmu Perbandingan Agama adalah  pertanyaan-pertanyaan yang bersifat fundmental dan universal dari tiap-tiap agama. Beberapa pertanyaan tersebut akan akan dijawab sesuai dengan ajaran agama masing-masing.[6]
Sedangkan menurut Wach pengalaman agama berbeda dengan pengalaman psikis biasa. Pengalaman agama mempunyai beberapa kriteria tertentu. Kriteria pertama, pengalaman agama merupakan suatu tanggapan terhadap apa yang dihayati sebagai Realitas Mutlak. Kedua, pengalaman agama merupakan tanggapan yang menyeluruh atau utuh (akal, perasaan, dan kehendak hati) manusia terhadap Realitas Mutlak. Ketiga, pengalaman agama merupakan pengalaman yang paling kuat, menyeluruh, mengesankan, dan mendalam dari manusia. Keempat, pengalaman agama merupakan pengalaman yang menggerakan untuk berbuat. Pengalaman tersebut mengandung imperatif, menjadi sumber motivasi dan perbuatan yang tak tergoyahkan.[7] Pengalaman agama yang subyektif ini diekspresikan atau diungkaplan dalam tiga ekspresi, yaitu: a. pengalaman agama yang diungkapkan dalam  pikiran. b. pengalaman agama yang diungkapkan dalam tindakan. c. pengalaman agama yang diungkapkan dalam kelompok.[8]
Pengalaman agama yang diungkapkan dalam pikiran terutama berupa mite, doktrin, dan dogma. Pengalaman agama ini dapat berbentuk symbol, oral, dan tulisan. Tulisan-tulisan bisa berupa kitab suci dan tulisan klasik Untuk keperluan memahami kitab suci diperlukan literature yang sifatnya menjelaskan, misalnya Talmud, Zend dalam Pahlevi, Hadis dalam Islam, Smrti di India, tulisan-tulisan Luther dan Calvin dalam Protestan. Agama-agama besar juga mempunyai credo, yaitu suatu ungkapan pendek tentang keyakinan, syahadat dua belas dalam Kristen, dua syahadat dalam Islam, dan shema dalam Yahudi. Adapun tema yang fundamental dalam pengalaman agama yang diungkapkan dalam pikiran adalah Tuhan, kosmos, dan manusia (Teologi, kosmologi, dan antropologi).
Selanjutnya pengalaman agama yang diungkapkan dalam tindakan  berupa kultus (peribadatan) dan pelayanan. Termasuk dalam pembahasan ini adalah maslah imitation, yaitu mencontoh tingkah laku dan kehidupan seorang pemimpin agama. Termasuk dalam pembahasan ini adalah keinginan supaya orang lain juga beragama seperti dia, yaitu masalah missionary atau dakwah. 
Akhirnya pengalaman agama yang diungkapkan dalam kelompok berupa kelompok-kelompok keagamaan (Ecclesia atau Gereja, Kahal, Ummah, Sangha).  Di sini dibahas juga masalah hubungan antara orang yang beragama dengan masyarakat umumnya, bahasa yang dipergunakan dalam pergaulan mereka baik antar-agama maupun intra-agama sendiri, fungsi, kharisma, umur, seks, keturunan, dan status.[9]

B.     Metode Ilmu Perbandingan Agama
Ada beberapa metode yang digunakan dalam Ilmu Perbandingan Agama. Metode-metode tersebut ialah:
1.         Metode Historis.
Dalam metode ini agama dikaji dari segi atau aspek periodesasi dan saling pengaruh antara agama yang satu dengan agama lainnya. Di sini dikaji asal-usul dan pertumbuhan pemikiran dan lembaga-lembaga agama melalui periode-periode perkembangan  sejarah tertentu, serta memahami peranan kekuatan-kekuatan yang diperlihatkan oleh agama dalam periode tersebut.[10]
Agama yang dikaji dalam metode ini bukan hanya agama secara keseluruhan, tetapi juga dapat dikaji aliran-aliran tertentu dari suatu agama maupun tokoh-tokoh tertentu dari suatu agama dalam periode tertentu dalam sejarah.[11]
2.         Metode Sosiologis.
Dalam metode ini dikaji problem-problem agama dan masyarakat dalam hubungannya satu sama lainnya. Banyak yang dapat dikaji dalam metode ini. Misalnya pengaruh kehidupan masyarakat dan perubahan-perubahannya terhadap pengalaman agama dan organisasi-organisasinya; pengaruh masyarakat terhadap ajaran-ajaran agama, praktek-praktek agama, golongan-golongan agama, jenis-jenis kepemimpinan agama; pengaruh agama terhadap perubahan-perubahan sosial, struktur-struktur sosial, pemenuhan atau fustrasi kebutuhan kepribadian; pengaruh timbale balik antara masyarakat dengan struktur intern persekutuan agama (segi keluar-masuknya jadi anggota, segi kepemimpinannya, toleransinya, kharismanya, dsb.) pengaruh gejala-gejala kemasyarakatan (mekanisasi, industrialisasi, urbanisasi, dsb.) terhadap agama; pengaruh agama terhadap etik, hukum, negara, politik, ekonomi, hubungan-hubungan sosial, dsb.[12]
3.         Metode psikologis.
Di sini dikaji aspek batin dari pengalaman agama individu maupun kelompok. Di dalam metode ini dikaji interrelasi dan interaksi antara agama dengan jiwa manusia. Kajian psikologis ini meliputi masalah arketipus, symbol, mite, numinous, penyataan (wahyu), iman, pertobatan, revival, suara hati, keinsafan dosa, perasaan bersalah, pengakuan dosa, pengampunan, kekhawatiran, kebimbangan, penyerahan diri, kelepasan, askese, kesucian, mistik, meditasi, kontemplasi, ekstase, orang-orang introvert agama, orang-orang ekstrovert agama, kehidupan jiwa orang-orang psikose, psikopati, neurose, dsb.[13]
4.         Metode Antropologis.
Metode ini memandang agama dari sudut pandang budaya manusia. Asal-usul dan perkembangan agama dikaitkan dengan budaya manusia. Biasanya metode ini berjalan sejajar dengan aliran-aliran yang ada dalam antropologi. Misalnya aliran evolusionisme, fungsionalisme, strukturalisme[14]
5.         Metode Fenomenologis.
Metode ini mengkaji agama dari segi essensinya. Dalam metode ini pengkaji agama  berusaha mengenyampingkan hal-hal yang bersifat subyektif. Pengkaji agama berusaha mengkaji agama menurut apa yang difahami oleh pemeluknya sendiri, bukan menurut pengkaji agama. Cara kerja metode ini adalah mengklasifikasi, menamai, membandingkan dan melukiskan gejala agama dan gejala-gejala agamani tersendiri (tertentu), dengan tidak memberikan penilaian  tentang nilai, kenyataan dan kebenaran agama dan gejala-gejala agama tersendiri (tertentu), tetapi menyerahkannya kepada filsafat agama dan teologi sistematis. Filsafat agama akan menilainya dalam terang akal-budi yang murni, sedang teologi sistematis akan menilainya dalam Penyataan Ilahi atau Wahyu.[15]
6.         Metode Typologis.
Metode ini mengkaji agama atau gejala-gejala agama dengan membuat tipe-tipe tertentu. Di sini gejala-gejala agama yang ruwet disusun dengan tipe-tipe ideal. Dalam metode ini disusunlah tipe-tipe mistik, teologi, peribadatan, kharisma agama, pemimpin agama, kekuatan agama, kelompok-kelompok agama, kejiwaan pemeluk agama, dsb.
7.         Metode Perbandingan atau Komparatif.
Dalam metode ini agama secara umum atau gejala-gejala agama (unsur-agama) diperbandingkan satu dengan lainnya. Ada beberapa cara dalam membandingkan ini. Menurut Ake Hultkranz, yang dibandingkan adalah fungsi-fungsi unsur agama dalam konteks budaya. Menurut O. Lewis, perbandingan bisa berupa perbandingan terbatas maupun perbandingan tak terbatas. Menurut Platvoet, perbandingan dapat berupa agama-agama sebagai keseluruhan maupun perbandingan gejala-gejala yang bersamaan di dalam agama-agama. Adapun van Baaren dan Leertouver membedakan antara perbandingan transkultural dengan perbandingan kontekstual. Dalam perbandingan transkultural perhatian ditujukan kepada pada cara dan unsur-unsur agama yang dianggap oleh penganut agama tersebut berbeda dengan cara dan unsur agama orang luar. Sedang dalam perbandingan kontekstual agama atau unsur agama dibandingkan dalam situasi konteks agama dan kebudayaan masing-masing. Akhirnya Ake Hulkrantz juga menunjukkan perbandingan melalui prinsip-prinsip sejarah, fungsional, struktural, dsb.[16]

C.     Dialog Antar Agama
1.      Signifikansi dialog antaragama
Setidaknya ada dua hal yang dapat dijadikan alasan perlunya diadakan dialog antaragama. Pertama, secara sosiologis, yakni era globalisasi dan informasi yang telah melanda seluruh aspek kehidupan manusia, di mana planet bumi telah menjelma menjadi kamar-kamar masyarakat tanpa sekat, tentu akan memunculkan apa yang disebut dengan pluralisme, termasuk pluralisme agama. Komaruddin Hidayat menyebut pluralisme agama sebagai sunnatullah (hukum sejarah), sebab menurutnya, inti keberagamaan adalah hasil pikiran sadar dan bebas, dan hal itu merupakan jalinan subjektif antara seseorang dengan Tuhannya. Oleh karena itulah pluralisme paham dan perilaku keberagamaan menjadi niscaya.[17]
Kedua, secara kemanusiaan, yaitu sebagaimana yang kita lihat dewasa ini, peradaban modern telah tampil dalam dua wajah yang antagonistis. Di satu pihak peradaban modern telah berhasil menciptakan kemajuan yang spektakuler, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dan kemakmuran fisik. Namun pada saat yang sama, ia juga telah mencetak pola hidup sekularisme, materialisme, dan individualisme, sehingga muncullah pelbagai problem moral dan kemanusian, di mana manusia kehilangan unsur spritualitasnya dan sarat dengan kompetisi dalam tempo tinggi, terjebak dalam kehidupan yang keras serta tidak bersahabat. Akibatnya lahirlah patalogi-patalogi sosial, seperti, perampokan, pembunuhan, pelanggaran HAM, dan sebagainya.
Akhir-akhir ini agama-agama dipandang dapat memberikan wajah baru bagi peradaban modern dengan segenap problematikanya tersebut. Anggapan ini tentu hanya menjadi sebuah retorika belaka, jika agama-agama tampil secara sendiri-sendiri dan sibuk menghadapi konflik antar pemeluk-pemeluknya. Untuk itulah diperlukan adanya dialog antaragama, agar agama betul-betul dapat diberdayakan sebagaimana mestinya dalam menyelesaikan persoalan-persoalan umat manusia.
Kenyataan ini, sudah barang tentu memaksa kita semua untuk meningkatkan kedewasaan dalam menghadapi perbedaan dan memperluas wawasan paham keagamaan, agar perbedaan tidak menimbulkan konflik, tetapi merupakan sebagai aset budaya dan politik. Dialog antaragama nampaknya cukup relevan dan kondusif dalam hal ini. Atau menurut istilah Frederick J. Streng dialog antaragama merupakan sebuah bentuk rekonsiliasi dari pluralitas keagamaan.
2.      Konsepsi dialog antaragama
Dialog adalah suatu percakapan antara dua orang atau lebih yang memiliki pandangan yang berbeda tentang sebuah masalah. Tujuan utamanya adalah agar setiap pihak dapat memahami pihak lain sehingga masing-masing dapat memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas dan berkembang. Dalam dialog setiap pihak harus bersedia mendengarkan pihak lain secara terbuka dan penuh perhatian, karena dialog menuntut setiap pihak untuk memahami posisi pihak lain setepat mungkin, dan tidak mustahil jika mau jujur, satu pihak akan menemukan posisi pihak lain begitu meyakinkan, lalu menerimanya. Jadi dialog bukan hanya sekedar debat yang tujuannya semata-mata untuk mengalahkan pihak lain.
Mukti Ali menambahkan bahwa dialog berarti juga concourse, yaitu berlari atau bergerak bersama-sama, bukan hanya berbicara satu dengan yang lainnya saja.[18]
Jadi yang dimaksud dialog antaragama adalah suatu tema wicara antara dua atau lebih pemeluk agama yang berbeda, di mana diadakan pertukaran nilai dan informasi keagamaan pihak masing-masing untuk mencapai bentuk kerja sama dalam semangat kerukunan.[19]

Berikut ini ada beberapa pedoman dasar dialog antaragama yang didesain oleh Leonard Swidler :
a.    Tujuan dialog antaragama adalah untuk menambah pengetahuan, yakni mengembangkan persepsi dan pemahaman tentang realitas, yang selanjutnya dilaksanakan secara tepat.
b.    Dialog antaragama harus dari dua pihak yang masing-masing sebagai pemeluk agama.
c.    Masing-masing pihak dalam dialog antaragama harus bersikap jujur dan ikhlas. Selain itu, masing-masing pihak juga harus menganggap pihak lain jujur dan ikhlas.
d.   Dalam dialog antaragama tidak boleh membandingkan antara konsep dengan praktek. Tetapi hendaknya yang dibandingkan adalah konsep dengan konsep, atau praktek dengan praktek.
e.    Masing-masing pihak dalam dialog antaragama harus memposisikan dirinya sesuai dengan eksisitensinya sendiri. Artinya seorang yang beragama Islam, harus berdiri sebagai seorang muslim, tidak boleh dia berdiri atas nama umat Kristiani atau umat lainnya.
f.     Masing-masing pihak dalam dialog antaragama tidak dibenarkan memiliki asumsi untuk mencari perbedaan-perbedaan, tetapi harus berusaha mencoba setuju dengan pihak lain sejauh masih terpelihara integritas keyakinannya.
g.    Dialog antaragama hanya bisa dilakukan dengan posisi seimbang. Artinya masing-masing pihak sama-sama untuk saling memberi pengetahuan. Apabila seorang muslim, misalnya, memandang pihak lain di bawah dia atau sebaliknya, tidak mungkin terjadi dialog.
h.     Dialog antaragama bisa terlaksana atas dasar saling percaya. Artinya masing-masing pihak memang benar-benar ingin berdialog dan memenuhi syarat untuk itu. Orang yang tidak memahami agamanya sendiri, umpamanya, tidak bisa ikut dialog.
i.      Orang yang berniat mengikut dialog antaragama, setidaknya memiliki sifat kritis terhadap dirinya dan agamanya. Jadi dia sadar benar bahwa diri dan keberagamaannya masih perlu penyempurnaan.
j.      Masing-masing pihak dalam dialog antaragama harus mencoba untuk menghayati agama atau kepercayaan pihak lain secara mendalam. Sebab untuk memahami suatu agama secara tepat, seseorang harus melakukan passing over ke dalam agama tersebut, dan kemudian kembali dengan terang, penuh pengalaman dan mendalam.[20]

3.       Lapangan dan bentuk dialog antaragama
Dialog antaragama mencakup tiga bidang lapangan operasional. Pertama, dialog antaragama dalam dataran praksis. Dalam hal ini dialog antaragama biasanya mengambil bentuk dialog kehidupan, yaitu orang dari pelbagai agama dan keyakinan hidup dalam kebersamaan pada sebuah komunitas bersama. Atau bisa juga dengan mengambil bentuk kegiatan sosial, di mana para pemeluk agama mencoba berkolaborasi untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kemanusiaan. Kedua, dialog antaragama dalam dataran spritual. Dalam hal ini dialog antaragama bisa mengambil bentuk komunikasi pengalaman keagamaan dari masing-masing pemeluk agama. Atau bisa juga dalam bentuk do'a bersama. Ketiga, dialog antaragama dalam dataran kognitif. Dalam hal ini dialog antaragama mengambil bentuk diskusi teologis di mana para pemeluk agama tukar menukar informasi tentang keyakinan, kepercayaan dan amalan-amalan agama mereka masing-masing dan berusaha untuk mencari saling pengertian dengan perantaraan diskusi tersebut.
4.       Tingkatan dialog antaragama
Dialog antaragama dapat dilakukan dalam tiga tingkatan. Pertama, tingkatan saling mengenal dan mengetahui satu sama lain di antara para pemeluk agama yang berbeda, karena adanya perasaan untuk saling menghormati dan menghargai di antara mereka. Kedua, tingkatan adanya upaya untuk saling mengamati perbedaan nilai-nilai yang diyakini masing-masing pemeluk agama yang berbeda dengan harapan untuk mencari penyesuaian dengan diri sendiri. Ketiga, tingkatan adanya upaya untuk mencari dan menyingkapkan wilayah realitas baru dan kebenaran yang belum terungkap sebelumnya sebagai hasil dari dialog tersebut. Dengan menjaga integritas dan sikap keterbukaan dalam tukar pendapat, maka terbuka peluang untuk terjadinya asimilasi yang bermanfaat bagi kedua belah pihak.
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Ilmu Perbandingan Agama sangat bermanfaat bagi seorang Muslim, sebab dengan mempelajarinya dapat memahami agama-agama  lain baik  ajaran-ajarannya   maupun perkembangan penafsiran dan lembaganya secara empiris. Selanjutnya dapat menemukan mutu manikam keunggulan ajaran Islam setelah dibandingkan dengan agama-agama lain. Akhirnya dapat digunakan sebagai dialog, kerukunan hidup beragama  dan dakwah.
Dialog antaragama merupakan sesuatu yang sangat urgen dan signifikan, karena ia merupakan rekonsiliasi dari pluralisme agama. Dengan dialog antaragama diharapkan terjadi pertukaran nilai dan informasi keagamaan antar pemeluk agama yang berbeda untuk mencapai bentuk kerja sama dalam semangat kerukunan. Dengan demikian agama menjadi berfungsi dan dapat diberdayakan sebagaimana mestinya. Alquran sebagai kitab suci agama Islam tentu saja tidak melupakan masalah hubungan antaragama, karena Alquran sendiri turun ditengah-tengah masyarakat yang telah memeluk agama sebelumnya. Paling tidak ada empat paradigma atau prinsip yang diajarkan Alquran untuk membangun dialog antaragama, yaitu: kesadaran akan perbedaan, kebebasan beragama, kebenaran bersifat universal dan doktrin supersessionisme Alquran sebagai legitimasi bagi agama-agama sebelumnya.







DAFTAR PUSTAKA

Rivai, Moh.  Perbandingan Agama.Semarang: Wicaksana.

Ali, A. Mukti. 1998. Agama Moralitas dan Perkembangan Kontemporer. Yogyakarta : Tiara wacana.

Ahmadi, Abu. 2014. Perbandingan Agama. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Mukti,Ali.1993. ilmu Perbandingan Agama. Yogyakarta: IAIN Sunan Kali jaga press.
.
Wach, Joachim.1969. The Comparative Study of Religions. Columbia
.
Jongeneel, J.A.B. 1978.  Pembimbing ke dalam Ilmu Agama dan Teologi Kristen Pembimbing Umum Pembimbing ke dalam Ilmu Agama,I. Jakarta.

Daradjat, Zakiah.1992.  Perbandingan Agama, II. Jakarta.

Daya, Burhanuddin dan Herman Leonard Beck. 1990. Ilmu Perbandingan Agama di Indonesia dan Belanda  (Beberapa Permasalahan). Jakarta.

Hidayat, Komaruddin, Tragedi Raja Midas.1998 .Jakarta.

Hendropuspito,D. 1990. Sosiologi Agama.  Yogyakarta.

Swidler, Leonard.1994. “The Dialogue Decalogue; Ground Rulers for Interreligious, Interideological Dialogue” dalam Jurnal Al-Jami'ah, No. 57.



[1]Moh Rivai, Perbandingan Agama, (Semarang: Wicaksana,1984), hlm. 11.  
[2]Abu Ahmadi, Perbandingan Agama, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2014), hlm.5
[3]Moh Rivai, Perbandingan Agama, (Semarang: Wicaksana,1984), hlm. 11.
[4] Mukti Ali, Ilmu Perbandingan Agama, (Yogyakarta: IAIN Sunan Kali Jaga Press,  1993), hlm.38-41.
[5] Mukti Ali, ilmu Perbandingan Agama , (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press 1993), hlm. 84.
[6] Mukti Ali, Ilmu Perbandingan Agama,hlm.7.
[7]Joachim Wach, Studi Perbandingan Agama ,(Columbia:_ 1969), hlm.31-36.
[8]Ibid,. hlm. 97.
[9]Ali Mukti, Ilmu Perbandingan Agama,hlm.79-81.
[10]Wach  Joachim, The Comparative Study of Religions, (Columbia:_ 1969), hlm.21.
[11]J.A.B Jongeneel, Pembimbing ke dalam Ilmu Agama dan Teologi Kristen Pembimbing Umum Pembimbing ke dalam Ilmu Agama,I (Jakarta : 1978). Hlm.49
[12]Ibid., hlm.68-69
[13]Ibid., hlm. 86
[14]Zakiah  Daradjat, Perbandingan Agama, II. (Jakarta : 1992). hlm.56
[15]J.A.B Jongeneel, Pembimbing ke dalam Ilmu Agama dan Teologi Kristen Pembimbing Umum Pembimbing ke dalam Ilmu Agama,I (Jakarta : 1978). Hlm.106-107

[16]Daya, Burhanuddin dan Herman Leonard Beck. Ilmu Perbandingan Agama di Indonesia dan Belanda  (Beberapa Permasalahan). (Jakarta : 1990). Hlm.53-56
[17] Komaruddin Hidayat, Tragedi Raja Midas, (Jakarta: Paramadina 1998), hlm. 179.
[18] A. Mukti Ali, Agama Moralitas dan Perkembangan Kontemporer, (Yogyakarta: Tiara Wacana 1998), hlm. 7-8
[19] D. Hendropuspito, Sosiologi Agama, (Yogyakarta: Kanisius 1990), hlm. 175
[20]Leonard Swidler, “The Dialogue Decalogue; Ground Rulers for Interreligious, Interideological Dialogue” dalam Jurnal Al-Jami'ah, No. 57, Tahun. 1994, p. 142-144

Senin, 10 April 2017

Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Al-Asror



Pada zaman dahulu ketika masih ada penjajahan di Indonesia. Pada masa pemerintahan kolonial Belanda ada seseorang yang pertama kali menyebarkan agama islam di daerah Patemon dan sekitarnya yaitu Simbah kyai Cagak Luas (Simbah Kyai Abdullah). Simbah kyai Cagak Luas termasuk seseorang yang Alim dan Sholeh. Beliau adalah Kakek dari Simbah Kyai Asror, setelah Beliau (Simbah kyai Cagak Luas) wafat, perjuangan Beliau kemudian diteruskan oleh cucunya (Simbah Kyai Asror).
Simbah Kyai Asror juga termasuk orang yang alim dan sholeh. Simbah Kyai Asror juga merupakan orang yang pertama menyebarkan agama islam diwilayah Patemon ini dan juga merupakan murid dari Simbah Kyai Sholeh Darat (Semarang). Beliau adalah orang yang menamakan desa Patemon ini dengan nama lain Desa Legoksari (walaupun legok-legok tetapi sari). Simbah Kyai Asror kemudian mendirikan sebuah masjid didesa patemon ini yang di beri nama masjid Al-Asror yang kita kenal sampai sekarang ini, yang kemudian masjid itu diteruskan oleh Simbah Abu Karim, dst. Simbah Kyai Asror mempunyai tiga orang anak, yaitu : Simbah Kyai Wahab, Simbah Nyai Siti Khotidjah, dan Simbah Kyai Mustofa. Nyai Siti Khotidjah kemudian menikah dengan Kyai Syamsuri (Giri Kusumo). Salah satu putri beliau namanya Simbah Siti Hajar Rohmah, yang kemudian menikah dengan Simbah Kyai Suratman. Simbah Kyai Asror wafat kira-kira sekitar tahun 1800-an. Setelah Simbah Asror wafat, perjuangan beliau diteruskan oleh Simbah Kyai Suratman. Simbah Kyai Asror adalah kakek dari Simbah Kyai Suratman.
Simbah Kyai Suratman itu dulu aslinya orang Payaman (Magelang), pada masa mudanya beliau menuntut ilmu diberbagai daerah. Setelah menimba ilmu agama, kemudian tinggal di Semarang bersama kakeknya (Simbah Kyai Asror), Beliau juga termasuk salah seorang alim ulama’. Simbah Kyai Suratman kemudian menikah dengan Siti Hajar Rohmah. Setelah menikah, beliau dikaruniahi empat orang anak, yaitu: Simbah Kyai Sonhaji, Simbah Kyai Mastur (Mbah Hadi), Simbah Kyai Zubaidi, dan Simbah Kyai Zuhri. Beberapa tahun kemudian Simbah Kyai Suratman berjihad menyebarkan agama Allah dengan cara mendirikan sebuah pondok, Beliau mendirikan pondok kecil yang terbuat dari anyaman bambu\pring (Gedhek), yang sangat sederhana. Simbah Kyai Suratman kerap didatangi tamu-tamu dari kalangan Kyai, Polisi, Tentara, dll. Dari tahun ke tahun banyak orang-orang yang ingin belajar ilmu dengan beliau sehingga banyak orang yang mondok di pondok beliau. Simbah kyai Suratman juga merupakan kerabat dekat dari Simbah kyai Hasan Munadi (Nyatyono, Ungaran). Karena kealiman dan kesholihan beliau, banyak orang yang datang meminta nasihat dan do’a kepadanya. Terkadang ada orang yang memberikan hadiah kepada beliau karena jasa beliau.
Ada sebuah cerita, ada orang yang pernah meminta nasihat pada beliau untuk memberikan solusi dari masalahnya, hajat orang itu ternyata terkabul melalui perantara doa beliau dan orang itu memberikan hadiah seekor sapi kepada beliau. Dalam cerita lain ada orang yang menginginkan sapi beliau dengan ditukarkan tanah seluas satu hektar lebih, orang itu sudah mengetahui kehebatan sapi beliau dan menginginkannya untuk dijadikan hewan ternaknya. Sebelum Simbah Kyai Suratman wafat beliau berpesan kepada isterinya Simbah Nyai Rohmah untuk menjual tanah dan hartanya untuk keperluan menuntut ilmu anak-anaknya (mondok di pesantren). Simbah Kyai Suratman wafat pada tahun 1967, sedangkan Simbah Nyai Rohmah wafat sekitar tahun 1970an. Jadi sebelum adanya pondok Al Asror ini dulunya sudah ada pondok lagi yaitu pondoknya Simbah Kyai Suratman. Setelah Simbah Kyai Suratman wafat, perjuangan beliau tidak berhenti disitu, perjuangannya diteruskan oleh putranya simbah kyai Zubaidi.
Simbah Kyai Zubaidi waktu muda dihabiskannya di pondok pesantren, Setelah menimba ilmu di pondok pesantren, kemudian Simbah kyai Zubaidi pulang dan menikah dengan Nyai Siti Markonah, dari pernikahan itu beliau dikaruniahi beberapa orang anak. Setelah itu mendirikan pondok pesantren pertamanya pada tahun 1980 yang diberi nama Pondok Pesantren Assalafy Al Asror, yang terletak di sebelah selatan Masjid AL-ASROR. Pada waktu dulu orang yang berguru (ngaos) diSimbah Kyai Zubaidi itu santrinya laki-laki semua belum ada santri putri, karena banyak orang yang ingin berguru kepada beliau (mondok), kemudian beliau mendirikan satu pondok lagi yaitu pondok putra (bagian atas), yang letaknya di sebelah barat Masjid AL-ASROR, kira-kira 30 m, sedangkan pondok yang berada bawah di tempati oleh santri putri sampai sekarang ini. Dengan kegigihan, kesabaran, dan semangat. Simbah Kyai Zubaidi memberikan pengajaran sedikit demi sedikit kepada santrinya agar semua santrinya itu dapat mengetahui ilmu agama dengan lebih jelas dan pasti.
Tahun berganti tahun semakin banyak orang yang ingin mencari ilmu kepada beliau. Pada tahun 1987, Simbah Kyai Zubaidi mendirikan sebuah Madrasah yang diberi nama Madrasah Tsanawiyah. Setelah terus berkembang, kemudian pada tahun 1990, beliau mendirikan sebuah madrasah lagi yaitu Madrasah Aliyah yang keduanya diberi nama AL ASROR. Tujuan beliau adalah agar orang-orang dapat mengetahui dan menambah wawasannya dalam bidang umum (formal), kalau dipondok pesantren pengajarannya itu mengenai ilmu agama secara jelas/ khusus (non formal). Diberi nama AL ASROR itu karena diambilkan dari nama Simbah Kyai Asror, orang kedua yang menyebarkan agama islam di wilayah patemon ini dan orang yang telah menamakan desa Patemon ini dengan nama Legoksari. Setelah berselang agak lama beliau wafat pada tahun 1999. kemudian digantikan oleh putranya yang juga telah menimba ilmu agama di pondok pesantren Lirboyo, Kediri, Jatim.
Putranya itu bernama KH. Almamnuhin Kholid (Gus Nuhin) yang menjadi pengasuh Pondok Pesantren Al-Asror sekarang ini. Gus Nuhin setelah pulang dari menuntut ilmu di pondok pesantrennya kemudian menikah dengan Istighfaroh. Dari pernikahan tersebut beliau dikaruniahi tiga orang anak, yaitu Gus Zida, Gus Naja, dan Mbak Dila. Beliaupun terus mengajarkan apa yang telah diperolehnya ketika masih menuntut ilmu di pondok pesantrennya dulu, karena banyaknya orang yang mondok dipondok Al Asror ini, Beliau kemudian mendirikan sebuah pondok untuk santri putra, yang sederhana (terbuat dari bata, semen, pasir, air, batu, dll). Yang letaknya disebelah utara Masjid Al Asror, tidak seperti dulu yang masih terbuat dari bambu (Gedhek). Setelah beberapa tahun kemudian beliau mendirikan pondok lagi untuk santri – santri putrinya. Di tahun 2014, beliau membangun kembali sebuah sekolah yaitu SMK Al-Asror yang terletak di belakang MA Al-Asror dan dibuka pada tahun 2015. Oleh karena itu penting bagi kita untuk merawat dan menjaga Almamater pondok. Kita juga harus melanjutkan perjuangan beliau yang telah bersusah payah mengajari kita sedikit tentang luasnya ilmu agama dan sebagai generasi penerusnya kita wajib mengamalkan apa yang diperoleh kita dipondok ini walaupun sedikit sekali agar kita mempunyai pembatas dalam pergaulan didalam masyarakat serta dapat mengamalkanya. Itulah gambaran tentang sejarah berdirinya Pondok Pesantren Putra-Putri Assalafy Al Asror ini yang hanya sedikit sekali.

Rabu, 05 April 2017

PEMANFAATAN MEDIA AUDIO DALAM PEMBELAJARAN HAFALAN AL-QUR’AN

PEMANFAATAN MEDIA AUDIO DALAM
PEMBELAJARAN HAFALAN AL-QUR’AN
Disusun Guna Memenuhi Tugas UTS Mata Kuliah
Media Pembelajaran PAI
Dosen pengampu: Guntur Cahyono, M.Pd.






 Oleh:
                 Nama                      : Ahmad Faqihuddin Siroj     
                 NIM                        : 23010-15-0138

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA
2017


A.    Latar Belakang
Islam merupakan agama yang Allah SWT turunkan sebagai agama yang penuh dengan rahmat dan keberkahan. Allah menurunkan agama sejatinya untuk menjadikan kendali, patokan, pegangan untuk mencapai kebahagian yang hakiki. Pedoman hidup yang diberikan pada umat muslim yaitu Al-Qur’an. 
Al-Qur’an adalah kitab suci Allah yang sempurna sebagai pedoman hidup, pelajaran, obat dan petunjuk bagi muslim. Mengingat demikian sangat berartinya Al-Qur’an dalam kehidupan umat muslim, maka belajar membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an sudah menjadikan kewajiban bagi seluruh umat Islam. Inilah salah satu keistimewaan Al-Qur’an keindahan dari bahasa Al-Qur’an pun mampu merangkum keluasan makna melalui kalimat yang mudah diucapkan, dipahami dan dihafalkan. Q.S. Al-Qamar ayat (17, 22, 32,40,) Allah menekankan dengan menyebutkan 4 kali ayat yang sama dalam surat Al-Qamar yang artinya : ”Dan sesungguhnya telah kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran ?”. Dari ayat ini dapat diketahui bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang paling mudah untuk dipelajari.
Gaya belajar seorang individu akan berbeda-beda sesuai dengan gaya atau modalitas utama yang mereka miliki. Dalam pembelajaran menghafal Al-Qur’an pun gaya belajar individunya bermacam-macam, misalnya dengan didampingi oleh mentor, belajar bersama-sama dengan mendengarkan bacaan gurunya di kelas lalu di ikuti oleh peserta didik, dan ada pula dengan menggunakan media pembelajaran.
B.       Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dari media audio?
2.      Apa saja kelebihan dan kelemahan media audio?
3.      Bagaimana cara memanfaatkan media audio dalam menghafalkan Al-Quran?
C.      Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian dari media audio.
2.      Untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan media audio.
3.      Untuk mengetahui cara memanfaatkan media audio dalam menghafalkan Al-Quran.
D.    Pengertian Media Audio
Media audio adalah media yang bentuk sarana penyampai, pembawa, dan pengantar pesannya ditangkap melalui indra pendengar. Dalam kehidupan sehari-hari kita sudah terbiasa menangkap pesan menggunakan indra pendengar. Dengan media audio, biasanya pendengar lebih cenderung untuk berpartisipasi, bergembira, meresapi makna suaranya, bersedih,  dan lain sebagainya. Di antara media audio ini adalah radio, MP3, tape recorder, piringan hitam, dan lain-lain.[1]
Dalam proses pembelajaran, media audio dapat dimanfaatkan dengan berbagai cara, yaitu digunakan tunggal (audio saja), dengan bahan cetak, bersama dengan video, atau gambar diam lainnya (Anderson, 1994). Masing-masing kegunaan ini perlu dirancang sejak tahap perencanaan media. Begitu pula dalam pemanfaatannya perlu disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai, materi pembelajaran, strategi pembelajaran, serta evaluasi dan tindak lanjutnya.
Hasil studi yang dilakukan Wilkinson (1980) menunjukkan bahwa media audio dapat digunakan untuk keperluan pembelajaran, bahkan untuk pembelajaran bahasa, pengucapan dan intonasi siswa yang menggunakan media ini lebih baik dibandingkan dengan siswa yang tidak menggunakannya. Di samping itu, media ini tidak hanya cocok untuk pesan aspek kognitif, namun juga sesuai untuk aspek afektif dan psikomotor. Di sisi lain, budaya baca masyarakat Indonesia termasuk para siswa masih lemah. Masyarakat kita lebih dominan dengan budaya mendengar dan menonton (Oos, 2000). Pengalaman Pustekkom Depdiknas dalam mengembangkan media audio untuk siswa Sekolah Dasar menunjukkan bahwa media ini dapat membantu guru dalam proses pembelajaran serta dapat meningkatkan motivasi dan minat siswa untuk belajar.[2]
E.    Kelebihan dan Kelemahan Media Audio
Media audio mempunyai kelebihan dan kelemahan. Di antara kelebihan media audio adalah sebagai berikut:
1.         Berdaya partisipatif. Artinya, media audio lebih menekankan pada aspek suara yang disampaikan kepada pendengar. Sehingga, kebanyakan dari pendengar merasa tertarik, menyentuh perasaan, dan ingin terlibat di dalamnya.
2.         Membantu mengembangkan sifat-sifat perasaan (ilusi dan fantasi).
3.         Membangkitkan kesadaran pribadi dan kesadaran kritis. Jika kita mendengarkan sebuah radio maka kita secara tidak sadar akan terlibat dan terhanyut di dalamnya.
4.         Lebih berdaya sugestif daripada menerangkan sesuatu.[3]
Selain keunggulan, media audio juga mempunyai beberapa kekurangan. Di antaranya adalah sebagai berikut:
1.         Hanya dapat didengar atau bergantung pada bunyi.
2.         Hanya terdiri atas satu jalur komunikasi.
3.         Tidak dapat memberi umpan balik seketika.
4.         Sulit dikontrol, terutama yang disiarkan.
Saat pesan gagal ditangkap maka seterusnya pun akan gagal, terutama menyangkut media audio yang disiarkan.[4]
F.     Memanfaatkan Media Audio dalam Menghafalkan Al-Quran
Pembelajaran dengan menggunakan media audio menjadi strategi yang tepat untuk menghafalkan Al-Qur’an. Proses menghafal dengan menggunakan media audio adalah perantara untuk memudahkan peserta didik menghafal. Bukan hanya dengan bacaan gurunya saja di kelas, akan tetapi peserta didik bisa mengulang-ulang ayat dengan menggunakan media audio. Terjadilah pengulangan terus menerus sebagai penguatan untuk menghafal Al-Qur’an sehingga bisa menciptakan hasil hafalan yang baik, benar, dan jangka panjang. Pemanfaatan media audio sangat mempermudah pembelajaran menghafal ayat Al-Qur’an sehingga dikemas menjadi lebih menarik dan bermakna. Selain itu juga media audio mampu melatih fokus anak dalam menyimak. [5]
Melalui media, proses pembelajaran Al-Qur’an akan menjadi pilihan yang tepat untuk meningkatkan motivasi dan menjadi daya tarik. Salah satu contoh media yang tepat untuk meningkatkan kemampuan menghafal ayat Al-Qur’an yaitu dengan menggunakan media audio. Arief Sadiman menyatakan bahwa : “kegunaan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat mengatasi sikap pasif anak didik. Sehingga berguna untuk menimbulkan kegairahan belajar, memungkinkan interaksi langsung dengan lingkungannya, dan memungkinkan anak didik belajar sendiri”. Berdasarkan penjelasan tersebut bahwa dengan media akan menjadi salah satu cara untuk menyajikan proses belajar mengajar menjadi lebih bervariasi. Dengan media pembelajaran yang peneliti pilih untuk meningkatkan kemampuan menghafal ayat Al-Qur’an yaitu dengan media yang mengoptimalkan pendengaran yaitu media audio. [6]
Audio adalah tipe belajar untuk orang-orang yang lebih senang mendengarkan. Khusus untuk orang yang mempunyai kemampuan belajar seperti ini, maka teknik belajar yang efektif adalah dengan mendengarkan murotal, atau mendengarkan seseorang yang membaca Al-Quran itu sendiri. Sehingga dia tidak hanya hafal Al-Quran tetapi juga paham akan tulisan yang ada di dalam mushaf tersebut.[7]
Dan ada beberapa penjelasan lengkap dan langkah-langkah memanfaatkan audio dalam pembelajaran menghafal Al-Quran yaitu:
1.      Kita harus menyiapkan audio rekaman bacaan Al-Quran (murottal) yang telah dibagi per-ayat dan menyiapkan kitab Al-Quran untuk dibaca ketika menghafal.
2.      Alangkah baiknya sebelum kita menghafal, kita harus membaca istighfar karena jika kita mempunyai dosa maka dosa tersebut akan membuat kita susah menghafal.
3.      Lalu dengarkanlah audio tersebut berulang-ulang sambil membacanya berulang-ulang pula mengikuti audio tersebut sampai kita hafal ayat tersebut, dan jika sudah hafal lanjutkan ke ayat selanjutnya.
4.      Lakukan cara tersebut di tempat yang tenang dan sejuk, dan badan kita harus segar bugar juga ceria jika perlu sebelumnya kita mandi dulu karena kebugaran badan mempengaruhi cepat/lambatnya proses penghafalan tersebut.
5.      Hafalan ayat Al-Quran setidaknya satu hari satu ayat, hal tersebut akan mempermudah kita untuk menghafalnya.
6.      Setelah kita mempunyai hafalan, kita harus mengulang hafalan tersebut ketika menghafal selanjutnya, karena dalam menghafal Al-Quran yangpaling susah itu bukan menghafalnya tetapi memeliharanya.
7.      Lakukan hal tersebut secara rutin setiap hari.[8]



DAFTAR PUSTAKA

Fauzia, Nuzul. 2015. Pengaruh Penggunaan Media Audio Untuk Meningkatkan Kemampuan Menghafal Ayat Al-Qur’an. Skripsi Universitas Pendidikan Indonesia
Kurniati, Sri. Tengku Eduard A. Sinar dan Dwi Astuti Aprijani. 2009. Pemilihan Teknologi Audio Yang Tepat Sebagai Media Pembelajaran Untuk Mahasiswa Universitas Terbuka. Jurnal Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh, Volume 10, Nomor 1
Nuha, Ulin. 2016. Ragam Metodologi dan Media Pembelajaran Bahasa Arab. Yogyakarta: DIVA Press
Sadiman, Arief. 2010. Media Pendidikan, Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya. Jakarta: Rajawali Pers
Soetomo. 1993. Dasar-Dasar Interaksi Belajar Mengajar. Surabaya: Usaha Nasional





[1] Soetomo, Dasar-Dasar Interaksi Belajar Mengajar, (Surabaya: Usaha Nasional, 1993), hlm. 207
[2] Sri Kurniati, Tengku Eduard A. Sinar dan Dwi Astuti Aprijani, Pemilihan Teknologi Audio Yang Tepat Sebagai Media Pembelajaran Untuk Mahasiswa Universitas Terbuka, Jurnal Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh, Volume 10, Nomor 1, Maret 2009,hlm. 52
[3] Ulin Nuha, Ragam Metodologi dan Media Pembelajaran Bahasa Arab, (Yogyakarta: DIVA Press, 2016), hlm. 269
[4] Ibid, hlm. 270
[5] Nuzul Fauzia, Pengaruh Penggunaan Media Audio Untuk Meningkatkan Kemampuan Menghafal Ayat Al-Qur’an, Skripsi Universitas Pendidikan Indonesia  2015, hlm. 7
[6] Arief Sadiman, dkk, Media Pendidikan, Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya, ( Jakarta: Rajawali Pers, 2010), hlm. 17

Minggu, 02 April 2017

CARA MENYALIN TEKS DI FOTO.JPG MENJADI WORD.DOC


Assalamu’alaikum WR.WB.
Halo kawan semua, apa kabar? Semoga kalian baik-baik saja ya..
Hello guys, pernahkah kalian mengetik makalah yang bersumber dari buku yang berlembar-lembar banyaknya? Pasti donk kalian pernah, apa lagi mahasiswa seperti saya ini..hahaha.. Butuh waktu lama dan capek pula mengetik berlembar-lembar halaman buku.
Langsung saja tak usah basa-basi. Sekarang saya akan membagikan sebuah tips, trik atau cara untuk mempermudah kita dalam urusan ketik mengetik. Alat dan bahan-bahan yang dibutuhkan yaitu:
1. Tentu saja PC/lepi/laptop.
2. Buku yang ingin disalin.
3. HP andriod berkamera yg bisa memotret tulisan dengan jelas.
4. Aplikasi android OfficeLens, bisa download di Playstore terdekat.
5. Aplikasi Word PC (jelas ada).
6. Aplikasi OneNote di PC.
7. Alat transfer data, baik kabel data, cardreader maupun aplikasi pengirim file seperti bluetooth atau ShareIt.

Yak langsung saja ya saya mulai dari Langkah pembuatan foto via OfficeLens:
1. Kita download terlebih dahulu OfficeLens di Playstore terdekat, ga download juga tak apa tapi menurut saya tingkat keberhasilannya lebih banyak pakai aplikasi ini.
2. Setelah selesai download Install terlebih dahulu.
3. Kemudian masuk deh ke OfficeLens.
4. Setelah itu siapkan bukunya dan buka pada halaman yang ingin disalin.
5. Foto menggunakan OfficeLens tadi.
6. Kemudian centang pada pilihan Galeri saja.
7. Kemudian simpan.

Langkah pembuatan foto via Kamera bawaan:
1. Siapkan kamera bawaan HP anda.
2. Setelah itu siapkan bukunya dan buka pada halaman yang ingin disalin.
3. Kemudian foto deh.
4. Simpan galeri vroh.
Langkah pembuatan word:

1. Pindahkan foto-foto tadi ke PC anda menggunakan apa saja.
2. Kemudian buka aplikasi OneNote di PC.
3. Setelah itu pilih Insert – Picture – From File...
4. Cari dah tu foto yang anda pindah tadi.
5. Pilih semua foto-foto tadi dan klik Open.
6. Dan muncul dah foto tadi di aplikasi OneNote.
7. Pilih gambar yang akan disalin tulisannya.
8. Klik kanan pilih “Copy Text From Picture”, kalau belum bisa diklik, arahkan kursor ketik pada gambar dan Klik kanan pilih "Copy Text From Picture"..
9. Buka aplikasi Word PCnya.
10. Klik kanan lalu Paste deh atau bisa menggunakan Ctrl+V.
11. Tinggal edit-edit fontnya dan tulisannya.
12. Selesai, jadi deh ga perlu ketik kata perkata..

Dan begitulah tips dari saya, bila ada kata yang kurang berkenang saya mohon maaf. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk berkunjung di blog sederhana ini, sering-sering kesini ya. Selamat beraktifitas. YNWA

Wassalamu’alaikum WR.WB

PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Dosen Pe...